Pages

Sabtu, 11 Mei 2013

Tafsir Teologis dan Ideologis Islam sebagai Mazhab HMI[1]


A.    Islam sebagai agama sempurna
Misi kedatangan Islam bermula ketika agama-agama sebelumnya tidak mampu lagi menjawab kebutuhan manusia akan aktualiasi kebutuhan spiritual terhadap kekuatan ghoib. Islam hadir dengan menawarkan konsep-konsep penyempurnaan terhadap agama sebelumnya. Konsep-konsep tersebut berupa jawaban terhadap kebutuhan manusia. Manusia memiliki sebuah fitrah yang telah ada sejak proses penciptaan[2]. Sebab fitrah merupakan bawaan alami yang melekat dalam diri manusia.
Berdasarkan bentuknya agama terbagi atas agama samawi dan agama ardhi[3]. Agama samawi adalah agama wahyu, agama langit, agama yang dibawa melalui perantaraan nabi/rasulnya. Sedangkan agama ardhi adalah agama bumi, agama budaya, agama filsafat, agama ra’yu, agama yang ciptakan manusia itu sendiri. Berdasarkan kedua bentuk agama tersebut maka kita dihadapkan untuk memilih agama, apakah agama samawi (Yahudi, Nasrani, dan Islam) ataukah agama ardhi (Hindu, Budha, Kong Hu Cu, Shintu dan termasuk aliran kepercayaan).
Setelah pembahasan tersebut, selanjutnya manusia dihadapkan pada pilihan untuk memilih satu agama, apakah agama samawi ataukah agama ardhi. Untuk menjawab pertanyaan tersebut manusia perlu melalui proses panjang, proses yang berliku-liku sebab pencarian terhadap agama hakiki tak sama perbandingannya dengan pencarian dengan sebuah organisasi mahasiswa.

Jumat, 10 Mei 2013

Relevansi Agama sebagai Kebutuhan Hidup Manusia

Oleh. Adil Syakir. T

Suatu hal yang menjadi prinsip dasar pandangan dunia sekaligus merupakan pondasi penting dalam diri seorang manusia terutama bagi mereka yang “beragama” salah satunya adalah beriman atau memiliki kepercayaan.[1]  Dengan kepercayaannya itu akan melahirkan suatu tata nilai guna menopang hidup dan budayanya, dan tentunya tanpa adanya sikap yang dilandasi kepercayaan atau pun adanya keraguan tidak mungkin dapat mempercayai tentang ada sesuatu yang lebih berkuasa di luar kemampuan dirinya sendiri. Sehingga kepercayaan merupakan suatu persyaratan hakiki untuk dapat disebut sebagai agamawan, dan sudah dapat dipastikan bagi yang tidak memiliki kepercayaan hakiki tersebut bukanlah seorang agamawan.
Barangkali tidak berlebihan jika saya katakan, agama telah menjadi salah satu atribut paling penting bagi sebuah peradaban manusia. Agama dipandang sebagai suatu ketentuan yang mampu mengatur jalan hidup manusia agar memiliki nilai-nilai kehanifan dalam hidup seperti yang telah diajarkan dalam agama Ibrahim.[2] Agama diasumsikan sebagai institusi yang mampu mewadahi kebutuhan-kebutuhan psikis manusia, karena di dalam agama memberikan ajaran-ajaran yang sekiranya mampu menjawab persoalan-persoalan yang sulit untuk dipecahkan dalam pandangan sains sebagai wakil dari modernitas, semisal pembuktian adanya hari akhirat.
Seseorang akan dapat diakui sebagai seorang yang “beradab” dan atau “berperadaban” jika dalam dirinya melekat suatu atribut agama, terlepas apapun nama agama yang dianutnya. Terkadang bagi sebagian orang memiliki pandangan negatif tentang persoalan agama yang lebih mengidentikkan agama dengan keterbelakangan, ketertinggalan, kumpulan orang-orang primitif, memilliki pikiran radikalisme dan seterusnya. Pernyataan ini tidaklah benar juga tidak keiru, secara tidak langsung apa yang dikatakan tersebut hanya ingin memberikan shock terapy kepada golongan agamawan agar dapat mampu merevitalisasi sekaligus memikirkan kembali persoalan-persoalan keagamaan yang bukan sekedar bentuk ritual-ritual ibadah secara vertikal tanpa melihat sisi lain yang justru bersinggungan langsung dengan kehidupan kaum agamawan yang lain.