Pages

Jumat, 10 Mei 2013

Relevansi Agama sebagai Kebutuhan Hidup Manusia

Oleh. Adil Syakir. T

Suatu hal yang menjadi prinsip dasar pandangan dunia sekaligus merupakan pondasi penting dalam diri seorang manusia terutama bagi mereka yang “beragama” salah satunya adalah beriman atau memiliki kepercayaan.[1]  Dengan kepercayaannya itu akan melahirkan suatu tata nilai guna menopang hidup dan budayanya, dan tentunya tanpa adanya sikap yang dilandasi kepercayaan atau pun adanya keraguan tidak mungkin dapat mempercayai tentang ada sesuatu yang lebih berkuasa di luar kemampuan dirinya sendiri. Sehingga kepercayaan merupakan suatu persyaratan hakiki untuk dapat disebut sebagai agamawan, dan sudah dapat dipastikan bagi yang tidak memiliki kepercayaan hakiki tersebut bukanlah seorang agamawan.
Barangkali tidak berlebihan jika saya katakan, agama telah menjadi salah satu atribut paling penting bagi sebuah peradaban manusia. Agama dipandang sebagai suatu ketentuan yang mampu mengatur jalan hidup manusia agar memiliki nilai-nilai kehanifan dalam hidup seperti yang telah diajarkan dalam agama Ibrahim.[2] Agama diasumsikan sebagai institusi yang mampu mewadahi kebutuhan-kebutuhan psikis manusia, karena di dalam agama memberikan ajaran-ajaran yang sekiranya mampu menjawab persoalan-persoalan yang sulit untuk dipecahkan dalam pandangan sains sebagai wakil dari modernitas, semisal pembuktian adanya hari akhirat.
Seseorang akan dapat diakui sebagai seorang yang “beradab” dan atau “berperadaban” jika dalam dirinya melekat suatu atribut agama, terlepas apapun nama agama yang dianutnya. Terkadang bagi sebagian orang memiliki pandangan negatif tentang persoalan agama yang lebih mengidentikkan agama dengan keterbelakangan, ketertinggalan, kumpulan orang-orang primitif, memilliki pikiran radikalisme dan seterusnya. Pernyataan ini tidaklah benar juga tidak keiru, secara tidak langsung apa yang dikatakan tersebut hanya ingin memberikan shock terapy kepada golongan agamawan agar dapat mampu merevitalisasi sekaligus memikirkan kembali persoalan-persoalan keagamaan yang bukan sekedar bentuk ritual-ritual ibadah secara vertikal tanpa melihat sisi lain yang justru bersinggungan langsung dengan kehidupan kaum agamawan yang lain.
Barangkali juga terdapat kekekliruan kita dalam memahami teori antropologi yang menyatakan bahwa agama telah muncul bersamaan dengan keberadaan manusia di muka bumi ini dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun, yaitu kepercayaan kepada kekuatan ”supra rasional” dan ”supra natural”. Dorongan agama merupakan sesuatu tuntutan psikis manusia yang tidak dapat dihindari untuk membentuk interpretasi baru bagi dirinya untuk mengenal Tuhan sehingga mereka menciptakan suasana batin dengan mewujudkan sebuah bentuk peribadatan.[3]
Beberapa anggapan negatif yang ditujukan kepada kaum agamawan disinyalir sebagai “kambing hitam” atas munculnya perpecahan bahkan permusuhan dalam perkembangan kehidupan dewasa ini. Agama yang semestinya dijadikan sebagai alat kontrol masyarakat, justru dituduh sebagai penyebab keresahan dan selalu bertolak belakang dengan perubahan modernitas kehidupan.[4]
             Namun patut untuk dikaji, bukankah dalam kondisi ketidakberdayaan setiap orang pasti mengharapkan adanya ”keajaiban” agar dia dapat selamat dari bahaya, mendapat keberuntungan, mengharap terjadinya sesuatu yang sangat diharapkan. Oleh karenanya hal itu sebagai bukti bahwa sejatinya semua manusia memiliki potensi untuk beragama dengan satu tujuan, mencari kebahagiaan yang hakiki. Meskipun demikian bagi Sigmund Freud menganggap agama sebagai sebuah ilusi dan gangguan kejiwaan manusia yang mengakibatkan kemuduran kembali dalam hidup.[5] 
            Ketika ”potensi agama” yang ada pada diri manusia mengalami intervensi dari ”Tuhan”, melalui seruan ”para pengkhotbah”, rasul, nabi, pastor, pendeta, ulama bahkan para penjahat, nara pidana, dan koruptor sekalipun, yang terjadi selanjutnya adalah berebut Tuhan sebagai alih-alih berebut kebenaran menurut keyakinannya masing-masing. Manusia saling bersekongkol membentuk satu kelompok dan mengkafirkan kelompok yang lain, bahkan tidak jarang rela bertaruh nyawa. Jika sudah demikian halnya, di mana lagi kedamaian sejati yang ditawarkan agama? Masihkah agama diperlukan manusia jika hanya memberikan kesengsaraan hidup bagi keberlangsungan peradaban manusia?. Hal seperti inilah yang sudah semestinya dapat disorot agar keberlangsungan agama sebagai institusi Tuhan mampu berfungsi dan mengakar dengan baik dalam kehidupan manusia.
            Secara kodrati agama bukan sebagai bahan hinaan, juga bukan sesuatu yang membuat belenggu keimanan, sehingga muncul tindakan-tindakan kemanusiaan yang tidak manusiawi.  lain halnya dengan kenyataan bahwa agama merupakan persoalan pokok kehidupan manusia, kebutuhan manusia akan agama terlihat secara jelas dengan terjadinya “perjanjian primordial” ant ara manusia dengan Tuhan; “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus (hanif) pada agama fitrah ciptaan Allah yang Dia mendiptakan manusia atas fitrah itu, tak ada perubahan dalam ciptaan Allah itu” (Q.S. Ar-Rum: 30).[6]
Agama merupakan tema paling penting (kebutuhan pokok alamiah) yang sanggup membangkitkan perhatian serius manusia, seperti apa yang dikatakan Murtadha Muthahari bahwa kebutuhan manusia akan agama berakar dalam kondisi dasar eksistensi manusia yang senantiasa memerlukan objek pengabdian dan salah satu medianya adalah agama.[7] Oleh karenanya agama menyadarkan akan sebuah dimensi nilai yang abadi. Menurut F. O`Dea bahwa agama senantiasa memiliki enam fungsi diantaranya; Pertama, agama mendasarkan diri manusia pada segala sesuatu di luar dirinya. Kedua, agama menawarkan suatu hubungan transedental melalui pemujaan atau peribadatan dengan memberikan dasar emosional bagi rasa aman dan identitas yang lebih kuat di atas ketidakpastian hidup. Ketiga, agama mensucikan nilai-nilai dan norma masyarakat yang telah dan akan terbentuk. Keempat, agama dapat memberikan standar nilai berupa norma-norma yang telah terlembaga yang dapat dikaji kembali secara kritis. Kelima, agama memberikan fungsi identitas bagi pemeluknya. Keenam, agama berkaitan dengan evolusi hidup manusia sehingga akan mempengaruhi karakteristik tingkat keberagamaan manusia.[8]
Suatu realitas sepanjang sejarah hidup dan kehidupan manusia masa lalu, kini, dan akan datang bahwa berbagai ideologi, aliran filsafat, ajaran-ajaran, dan lain sebagainya muncul dan hilang, akan tetapi agama tetap ada dan agama tidak pernah mati dan lenyap. Dalam arti, bentuk-bentuk penyembahan manusia kepada Illahi tetap ada dan terus menerus mengalami perkembangan. Quraish Shihab dalam bukunya menyatakan bahwa walaupun pemikiran manusia bisa berubah, secanggih – canggihnya teknologi bisa rusak, dan umat beragama bisa habis, namun agama walaupun tidak abadi, tetap ada. Karena agama tetap atau tidak pernah lenyap, maka ajaran tentang Tuhan yang diajarkan dalam dan oleh agama-agama pun tetap ada. Seandainya tidak ada agama, namun Tuhan tetap dan terus menerus ada, karena Ia tidak tergantung pada ada atau tidaknya agama.[9]
Salah satu faktor Agama muncul karena adanya manusia.[10] Manusia merupakan makhluk yang yang diberikan kesempurnaan berupa fitrah sebagai motivator intrinsik  untuk mencapai rasa atau naluri ingin tahu pada suatu hakikat relaitas kehidupan, karena dengannya manusia memiliki dorongan untuk memiliki rasa ketenteraman jiwa.[11] Agama hanya bisa terlihat sebagai agama dalam arti berdampak pada perubahan manusia secara utuh jika ada manusia yang menjadi penganut atau umatnya. Agama tak berarti apa-apa jika tidak ada umatnya. Agama akan menjadi sekedar kumpulan orang-orang yang menjalankan suatu sistem ajaran jika tidak dijalankan oleh penganutnya. Agama akan mempunyai faedah jika para penganutnya menjalankan serta mengaplikasikan ajarannya dengan baik dan benar dalam hidup dan kehidupan setiap hari.
Lalu mengapa manusia beragama? Jawaban sederhananya adalah karena manusia mempunyai naluri religius untuk menyembah sesuatu  di luar dirinya sebagai suatu ketundukan pada kekuasan yang superior artinya sebagai daya penentu kehidupan manusia yaitu sebuah ikatan yang menyatukan pikiran manusia dengan pikiran misterius yang menguasai dunia dan diri yang dia sadari, dan dengan hal-hal yang menimbulkan ketenteraman bila terikat dengan hal tersebut.[12] Namun, jika ditelaah lebih mendalam, maka alasan-alasan manusia beragama ternyata tidak sederhana. Ada banyak faktor yang menjadikan manusia ataupun seseorang beragama sekaligus mengembangkan pola-pola keberagamaannya. Pada umumnya, manusia beragama di dalamnya ada upaya sungguh-sungguh untuk menyembah dan percaya kepada Tuhan sebagai pusat keyakinannya, karena berbagai alasan. Misalnya, alasan atas keterbatasan dan ketidakmampuan psikologis. Manusia merasa tidak mempunyai kepastian masa depan karena tak mampu mengikuti perubahan, sehingga mengalami stagnasi berpikir, kemudian melarikan diri kepada hal-hal rohaniah.
Di samping semua hal tersebut, ada orang yang menjadi pemeluk atau umat salah satu agama dengan alasan-alasan khas, misalnya ingin memberi pengaruh positif pada hidup dan kehidupan secara pribadi dan anggota masyarakat serta ikut ambil bagian dalam pembangunan serta perbaikan masyarakat melalui berbagai bidang hidup dan kehidupan. Atau pun ajaran agama menjadikan manusia mempunyai sikap moral dan etika yang baik, sehingga mampu membangun relasi antar sesama dengan penuh tanggungjawab, mendorong seseorang untuk berbuat kebajikan, membantu, menolong, memperhatikan sesama manusia berdasarkan cinta kasih.
Betapa pun alasan yang dikeluarkan tentang agama, Agama berperan untuk perubahan manusia, sebaliknya manusia pun dapat berubah karena adanya agama. Oleh sebab itu, ada beberapa peran yang bisa dilakukan agama terkait peranannya sebagai  institusi agama atau umat beragama, terutama mereka yang berperan sebagai pemimpin-pemimpin keagamaan. Ketika seseorang mengikatkan diri pada agama tertentu atau menjadi umat beragama, tersirat dari dalam dirnya bahwa ia harus mendapat keuntungan dari tindakannya itu. Ini berarti, agama harus membawa perbaikan dan perubahan total pada manusia.


[1]. Menurut Cak Nur bahwa yang disebut dengan beriman bukan sekedar percaya kepada Tuhan seperti orang Mekkah dahulu yang mewujudkan bentuk kepercayaannya kepada berhala-berhala tuhan yang nisbi, melainkan sikap percaya terhadap Tuhan tersebut mesti dalam kualitas-Nya sebagai satu-satunya yang bersifat keillahian atau ketuhanan dan tidak memandang adanya kualitas serupakepada suatu apapun yang lain. Lihat Nurcholis Madjid. Pintu-pintu menuju Tuhan. (Jakarta; Paramadina, 2008).
[2].  Murtadha Muthahari, Perspektif Al – Qur’an Tentang Manusia dan Agama. (Bandung: Mizan, 1992). Hlm. 85
[3]. Dadang Kahmad, Sosiologi Agama. (Bandung, Pustaka Setia, 2011), Hlm. 64
[4] . Ibid., Hlm. 6
[5] . Ibid. Hlm. 64
[6] . Ibid., Hlm. 63
[7] . Murtadha Muthahari, Perspektif Al – Qur’an Tentang Manusia dan Agama. (Bandung: Mizan, 1992). Hlm. 43
[8] . Dengan demikian agama sebagai ajaran pandangan hidup atau landasan Ideologi yang tidak dapat dipisahkan dari diri manusia.    Lihat Ibid., Hlm. 64-65 dan Thomas F. O`Dea, Sosiologi Agama, (Jakarta; Rajawali Press, 1994), Hlm. 26-29.
[9].  M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat), (Jakarta; Mizan, 2004),  Hlm. 375 – 376
[10]. Lihat Nurcholis Madjid. Islam Doktrin dan Peradaban. (Jakarta; Paramadina, 2008) Hlm. 32
[11] . Ibid., Hlm. 5
[12] . Emile Durkheim, The Elementary Forms of The Religious Life,terj. Inyiak Ridwan M. (Yogyakarta; Ircisod, 2011),  Hlm. 56
 

0 komentar:

Posting Komentar