Oleh. Adil Syakir. T
Suatu hal yang menjadi prinsip dasar pandangan dunia sekaligus merupakan pondasi penting dalam diri seorang manusia
terutama bagi mereka yang “beragama” salah satunya adalah beriman atau memiliki kepercayaan.[1] Dengan kepercayaannya itu akan
melahirkan suatu
tata
nilai guna menopang hidup dan budayanya, dan tentunya tanpa adanya sikap yang dilandasi kepercayaan atau pun adanya keraguan tidak
mungkin dapat mempercayai
tentang ada sesuatu yang
lebih berkuasa di luar kemampuan dirinya sendiri. Sehingga kepercayaan merupakan suatu persyaratan hakiki untuk dapat
disebut sebagai agamawan, dan sudah dapat dipastikan bagi yang tidak memiliki
kepercayaan hakiki tersebut bukanlah seorang agamawan.
Barangkali tidak berlebihan jika
saya katakan, agama telah menjadi salah satu atribut paling penting bagi sebuah
peradaban manusia. Agama dipandang sebagai suatu ketentuan yang mampu mengatur
jalan hidup manusia agar memiliki nilai-nilai kehanifan dalam hidup seperti
yang telah diajarkan dalam agama Ibrahim.[2]
Agama diasumsikan sebagai institusi yang mampu mewadahi kebutuhan-kebutuhan
psikis manusia, karena di dalam agama memberikan ajaran-ajaran yang sekiranya
mampu menjawab persoalan-persoalan yang sulit untuk dipecahkan dalam pandangan
sains sebagai wakil dari modernitas, semisal pembuktian adanya hari akhirat.
Seseorang akan dapat diakui sebagai
seorang yang “beradab” dan atau “berperadaban” jika dalam dirinya melekat suatu
atribut agama, terlepas apapun nama agama yang dianutnya. Terkadang bagi
sebagian orang memiliki pandangan negatif tentang persoalan agama yang lebih
mengidentikkan agama dengan keterbelakangan, ketertinggalan, kumpulan
orang-orang primitif, memilliki pikiran radikalisme dan seterusnya. Pernyataan
ini tidaklah benar juga tidak keiru, secara tidak langsung apa yang dikatakan
tersebut hanya ingin memberikan shock terapy kepada golongan agamawan
agar dapat mampu merevitalisasi sekaligus memikirkan kembali
persoalan-persoalan keagamaan yang bukan sekedar bentuk ritual-ritual ibadah
secara vertikal tanpa melihat sisi lain yang justru bersinggungan langsung
dengan kehidupan kaum agamawan yang lain.
Barangkali juga terdapat kekekliruan
kita dalam memahami teori antropologi yang menyatakan bahwa agama telah muncul
bersamaan dengan keberadaan manusia di muka bumi ini dalam bentuk yang paling
sederhana sekalipun, yaitu kepercayaan kepada kekuatan ”supra rasional” dan
”supra natural”. Dorongan agama merupakan sesuatu tuntutan psikis manusia yang
tidak dapat dihindari untuk membentuk interpretasi baru bagi dirinya untuk
mengenal Tuhan sehingga mereka menciptakan suasana batin dengan mewujudkan
sebuah bentuk peribadatan.[3]
Beberapa anggapan negatif yang
ditujukan kepada kaum agamawan disinyalir sebagai “kambing hitam” atas
munculnya perpecahan bahkan permusuhan dalam perkembangan kehidupan dewasa ini.
Agama yang semestinya dijadikan sebagai alat kontrol masyarakat, justru dituduh
sebagai penyebab keresahan dan selalu bertolak belakang dengan perubahan
modernitas kehidupan.[4]
Namun patut untuk dikaji, bukankah dalam
kondisi ketidakberdayaan setiap orang pasti mengharapkan adanya ”keajaiban” agar
dia dapat selamat dari bahaya, mendapat keberuntungan, mengharap terjadinya
sesuatu yang sangat diharapkan. Oleh karenanya hal itu sebagai bukti bahwa
sejatinya semua manusia memiliki potensi untuk beragama dengan satu tujuan,
mencari kebahagiaan yang hakiki. Meskipun demikian bagi Sigmund Freud
menganggap agama sebagai sebuah ilusi dan gangguan kejiwaan manusia yang
mengakibatkan kemuduran kembali dalam hidup.[5]
Ketika
”potensi agama” yang ada pada diri manusia mengalami intervensi dari ”Tuhan”,
melalui seruan ”para pengkhotbah”, rasul, nabi, pastor, pendeta, ulama bahkan
para penjahat, nara pidana, dan koruptor sekalipun, yang terjadi selanjutnya
adalah berebut Tuhan sebagai alih-alih berebut kebenaran menurut keyakinannya
masing-masing. Manusia saling bersekongkol membentuk satu kelompok dan
mengkafirkan kelompok yang lain, bahkan tidak jarang rela bertaruh nyawa. Jika
sudah demikian halnya, di mana lagi kedamaian sejati yang ditawarkan agama?
Masihkah agama diperlukan manusia jika hanya memberikan kesengsaraan hidup bagi
keberlangsungan peradaban manusia?. Hal seperti inilah yang sudah semestinya dapat
disorot agar keberlangsungan agama sebagai institusi Tuhan mampu berfungsi dan
mengakar dengan baik dalam kehidupan manusia.
Secara
kodrati agama bukan sebagai bahan hinaan, juga bukan sesuatu yang membuat
belenggu keimanan, sehingga muncul tindakan-tindakan kemanusiaan yang tidak
manusiawi. lain halnya dengan kenyataan bahwa agama merupakan persoalan
pokok kehidupan manusia, kebutuhan manusia akan agama terlihat secara jelas
dengan terjadinya “perjanjian primordial” ant ara manusia dengan Tuhan; “Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus (hanif) pada agama fitrah ciptaan Allah yang
Dia mendiptakan manusia atas fitrah itu, tak ada perubahan dalam ciptaan Allah
itu” (Q.S. Ar-Rum: 30).[6]
Agama merupakan tema paling penting (kebutuhan pokok
alamiah) yang sanggup membangkitkan perhatian serius manusia, seperti apa yang
dikatakan Murtadha Muthahari bahwa kebutuhan manusia akan agama berakar dalam kondisi
dasar eksistensi manusia yang senantiasa memerlukan objek pengabdian dan salah
satu medianya adalah agama.[7]
Oleh karenanya agama menyadarkan akan sebuah dimensi nilai yang abadi. Menurut
F. O`Dea bahwa agama senantiasa memiliki enam fungsi diantaranya; Pertama, agama
mendasarkan diri manusia pada segala sesuatu di luar dirinya. Kedua, agama
menawarkan suatu hubungan transedental melalui pemujaan atau peribadatan dengan
memberikan dasar emosional bagi rasa aman dan identitas yang lebih kuat di atas
ketidakpastian hidup. Ketiga, agama mensucikan nilai-nilai dan norma
masyarakat yang telah dan akan terbentuk. Keempat, agama dapat
memberikan standar nilai berupa norma-norma yang telah terlembaga yang dapat
dikaji kembali secara kritis. Kelima, agama memberikan fungsi identitas
bagi pemeluknya. Keenam, agama berkaitan dengan evolusi hidup manusia
sehingga akan mempengaruhi karakteristik tingkat keberagamaan manusia.[8]
Suatu realitas sepanjang sejarah hidup dan kehidupan manusia
masa lalu, kini, dan akan datang bahwa berbagai ideologi, aliran filsafat,
ajaran-ajaran, dan lain sebagainya muncul dan hilang, akan tetapi agama tetap
ada dan agama tidak pernah mati dan lenyap. Dalam arti, bentuk-bentuk
penyembahan manusia kepada Illahi tetap ada dan terus menerus mengalami
perkembangan. Quraish Shihab dalam bukunya menyatakan bahwa walaupun pemikiran
manusia bisa berubah, secanggih – canggihnya teknologi bisa rusak, dan umat
beragama bisa habis, namun agama walaupun tidak abadi, tetap ada. Karena agama
tetap atau tidak pernah lenyap, maka ajaran tentang Tuhan yang diajarkan dalam
dan oleh agama-agama pun tetap ada. Seandainya tidak ada agama, namun Tuhan
tetap dan terus menerus ada, karena Ia tidak tergantung pada ada atau tidaknya
agama.[9]
Salah satu faktor Agama muncul karena adanya manusia.[10]
Manusia merupakan makhluk yang yang diberikan kesempurnaan berupa fitrah
sebagai motivator intrinsik untuk mencapai rasa atau naluri ingin tahu
pada suatu hakikat relaitas kehidupan, karena dengannya manusia memiliki dorongan
untuk memiliki rasa ketenteraman jiwa.[11]
Agama hanya bisa terlihat sebagai agama dalam arti berdampak
pada perubahan manusia secara utuh jika ada manusia yang menjadi penganut atau
umatnya. Agama tak berarti apa-apa jika tidak ada umatnya. Agama akan menjadi
sekedar kumpulan orang-orang yang menjalankan suatu sistem ajaran jika tidak
dijalankan oleh penganutnya. Agama akan mempunyai faedah jika para penganutnya
menjalankan serta mengaplikasikan ajarannya dengan baik dan benar dalam hidup
dan kehidupan setiap hari.
Lalu mengapa manusia beragama? Jawaban sederhananya adalah
karena manusia mempunyai naluri religius untuk menyembah sesuatu di luar dirinya sebagai suatu ketundukan pada
kekuasan yang superior artinya sebagai daya penentu kehidupan manusia yaitu
sebuah ikatan yang menyatukan pikiran manusia dengan pikiran misterius yang
menguasai dunia dan diri yang dia sadari, dan dengan hal-hal yang menimbulkan
ketenteraman bila terikat dengan hal tersebut.[12]
Namun, jika ditelaah lebih mendalam, maka alasan-alasan manusia beragama
ternyata tidak sederhana. Ada banyak faktor yang menjadikan manusia ataupun
seseorang beragama sekaligus mengembangkan pola-pola keberagamaannya. Pada
umumnya, manusia beragama di dalamnya ada upaya sungguh-sungguh untuk menyembah
dan percaya kepada Tuhan sebagai pusat keyakinannya, karena berbagai alasan.
Misalnya, alasan atas keterbatasan dan ketidakmampuan psikologis. Manusia
merasa tidak mempunyai kepastian masa depan karena tak mampu mengikuti
perubahan, sehingga mengalami stagnasi berpikir, kemudian melarikan diri kepada
hal-hal rohaniah.
Di samping semua hal tersebut, ada orang yang menjadi
pemeluk atau umat salah satu agama dengan alasan-alasan khas, misalnya ingin
memberi pengaruh positif pada hidup dan kehidupan secara pribadi dan anggota
masyarakat serta ikut ambil bagian dalam pembangunan serta perbaikan masyarakat
melalui berbagai bidang hidup dan kehidupan. Atau pun ajaran agama menjadikan
manusia mempunyai sikap moral dan etika yang baik, sehingga mampu membangun
relasi antar sesama dengan penuh tanggungjawab, mendorong seseorang untuk
berbuat kebajikan, membantu, menolong, memperhatikan sesama manusia berdasarkan
cinta kasih.
Betapa pun alasan yang dikeluarkan tentang
agama, Agama berperan untuk perubahan manusia, sebaliknya manusia pun dapat
berubah karena adanya agama. Oleh sebab itu, ada beberapa peran yang bisa
dilakukan agama terkait peranannya sebagai institusi agama atau umat
beragama, terutama mereka yang berperan sebagai pemimpin-pemimpin keagamaan.
Ketika seseorang mengikatkan diri pada agama tertentu atau
menjadi umat beragama, tersirat dari dalam dirnya bahwa ia harus
mendapat keuntungan dari tindakannya itu. Ini berarti, agama
harus membawa perbaikan dan perubahan total pada manusia.
[1]. Menurut Cak Nur bahwa yang disebut dengan beriman bukan
sekedar percaya kepada Tuhan seperti orang Mekkah dahulu yang mewujudkan bentuk
kepercayaannya kepada berhala-berhala tuhan yang nisbi, melainkan sikap percaya
terhadap Tuhan tersebut mesti dalam kualitas-Nya sebagai satu-satunya yang
bersifat keillahian atau ketuhanan dan tidak memandang adanya kualitas
serupakepada suatu apapun yang lain. Lihat Nurcholis Madjid. Pintu-pintu
menuju Tuhan. (Jakarta; Paramadina, 2008).
[2].
Murtadha Muthahari, Perspektif
Al – Qur’an Tentang Manusia dan Agama. (Bandung: Mizan, 1992). Hlm. 85
[7] . Murtadha Muthahari, Perspektif Al – Qur’an
Tentang Manusia dan Agama. (Bandung: Mizan, 1992). Hlm. 43
[8] . Dengan
demikian agama sebagai ajaran pandangan hidup atau landasan Ideologi yang tidak
dapat dipisahkan dari diri manusia. Lihat Ibid., Hlm. 64-65
dan Thomas F. O`Dea, Sosiologi Agama, (Jakarta; Rajawali Press, 1994), Hlm.
26-29.
[9]. M. Quraish Shihab, Wawasan
Al-Qur’an (Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat), (Jakarta; Mizan,
2004), Hlm. 375 – 376
[12] .
Emile Durkheim, The Elementary Forms of The Religious
Life,terj. Inyiak Ridwan M. (Yogyakarta; Ircisod, 2011), Hlm. 56
0 komentar:
Posting Komentar